Sabtu, 28 Januari 2012

General Review Filsafat Ilmu

Pada Yunani kuno, ilmu dengan filsafat sukar dipisahkan karena keduanya saling melengkapi. Dan sedikit demi sedikit dengan makin berkembangnya penalaran dan metode ilmiah itu muncul dengan makin kuatnya  dan makin dihargai pembuktian empiric (dihitung, diukur, dilihat, didengar) dan seiring itu, makin meluasnya penggunaan instrument penelitian (wawancara dll).
Suatu pengetahuan termasuk dikatakan ilmu atau pengetahuan ilmiah apabila memenuhi syarat:
 a. Dasar pembenaran; seluruh cara kerja ilmiah harus diarahkan untuk memperoleh derajat kepastian yang tinggi (mungkin pada pengetahuan yang dihasilkannya).
b. Sistematik; terdapat system di dalam susunan pengethuan ilmiah dan di dalam cara memperoleh pengetahuan ilmiah itu (proses, metode).
c. Intersubjektif; pengetahuan yang teah diperoleh seorang subyek harus mengalami verifikasi oleh subyek-subyek lain supaya pengetahuan itu lebih terjamin keabsahannya atau kebenarannya.
Selain ketiga syarat tersebut itu akan mempermudah ilmu juga mengandung sifat-sifat penting lainnya:
a). Universal; ilmu harus berlaku umum, lintas ruang dan waktu, namun universal mempunyai batasan yang berkaitan erat dengan karakter  universal ilmu dan berkaitan dengan ilmu eksaktat (alam).
b). Dapat dikomunikasikan.
c). Progresif.
Filsafat adalah berasal dari bahasa Yunani yaitu Philosophia dari kata philos yang artinya cinta atau philia berarti persahabatan. Sedangkan sophos berarti intelgency, kebijaksanaan, kebijaksanaan, keterampilan, pengalaman, pengetahuan. Jadi philosophia adalah cinta akan kebijaksanaan.
Beberapa hal yang harus diketahui mengenai filsafat:
a. Filsafat berkenaan dengan pencarian kebenaran fundamental (Socrates; Plato).
b. Kebenaran itu dicari dengan cara; argumentative (pemaparan pendapat yang rasional dengan penalarannya), non-empirik (tidak pada inderawi manusia/tidak masuk akal).
c. Filosofis mengandung cirri; holistic, kompehensif, kritis.

Filsafat ilmu
1.      Filsafat ilmu adalah : penyelidikan tentang ciri pengetahuan ilmiah dan cara memperolehnya.
2.      Kedudukan : sebagai cabang dari filsafat umum dan sebagai pendekatan dalam kajian.
3.      Obyek : obyek materialnya ilmu pengetahuan, obyek formalnya esensi ilmu pengetahuan.
Jadi Filsafat Ilmu adalah filsafat yang menulusuri sedalam dan seluas (meneliti bagaimana ilmu-ilmu disusun) atau sering dikatakan sebagai ilmu pasti guna mencari kebenaran.
Dan ilmu sendiri ada 4 sifat:
1.      Ilmu harus sesuai dengan obyeknya.
2.      Ilmu harus mempunyai metode.
3.      Harus bersifat universal; berlaku pada semua kalangan.
4.      Dan ilmu harus mempunyai suatu system.
Pada hakikatnya suatu ilmu harus mempunyai suatu kebenaran, dan bisa dikatakan ilmu itu benar apabila: memberi keselamatan, ketepatan, keamanan, kenyamanan, dan ketenangan.
Cara kerja ilmu agama meski dilapisi: Pengamatan; Jangan percaya kepada yang telah ada di masyarakatdan harus sesuai dengan akal kita, Percobaan; cari jawaban yang secukupny, Penemuan; kumpulkan fakta-fakta yang mendukung untuk membangun kekurangan.
Dalam bidang kemanusiaan; hipotesa, hokum, teori
Teori ilmiah:
·      Empiris / induktif; berdasarkan pada kenyataan
·      Data-data
·      Regular (tetap, selalu muncul)
·      Induktif, deduktif, simpulan sementara
Untuk menghasilkan suatu teori ilmiah harus melewati beberapa tahap;
Data-data yang akan kita teliti bisa dari alam seperti penelitian gunung berapi. Bisa juga dari social seperti meneliti masyarakat. Data dari humanistic seperti keadilan, marginalisasi.
Beberpa tahap penelitian:
Ø Saat akan melakukan penelitian peneliti harus memiliki rasa keingintahuan yang tinggi agar hasil penelitiannya maksimal
Ø Mengumpulkan data-data
Ø Observasi; dari alam, social, humanistic. Penelitian bisa dilakukan di lapangan, laboratorium.
Ø Indultif; mengumpulkan data-data sejenis (saling berhubungan kemudian diklasifikasi)
Ø Pemaknaan data (literature study) dari buku-buku yang telah terbukti.
Ø Hipotesis; muncul setelah ada penelitian simpulan koreksi-koreksi, muncul setelah ada penelitian simpulan sementara.
Ø Explanasi “low”; hokum-hukum ilmiah, dapat uraian-uraian kenapa ilmu itu bisa terjadi.
Ø Kemudian akan menjadi sebuah teori ilmiah
Seperti yang tela dijelaskan pada limas ilmu kemarin, tetapi dalam limas ilmu hanya dijelaskan cuma 4 tahap. Dan kalau di atas merupakan penjabaran dari limas ilmu.
Ilmu Sebagai Suatu Praktik Sosial
Perkembangan suatu ilmu, bisa di analogikan sebuah candi yang berdiri sebagai hasil gabungan pekerjaan sejumlah individu yang menterapkan keterampilannya masing-masing. Sebagaimana J. R. Ravetz pernah mengemukakan; “pengetahuan ilmiah di capai dengan upaya sosisal yang komplex dan berasal dari pekerjaan banyak tukang di dalam interaksi mereka yang  sangat istimewa dengan dunia alam” satu karakterisasi objektif yang lengkap tentang ilmu akan meliputi juga karaktrisasi tentang ketrampilan dan tehnik yang terlibat di dalamnya.
Suatu ciri penting dari paraktik fisika semenjak galileo ialah mulainya para ilmuan melakukan praktik experimen. Experimen untuk menangani atau mempengaruhai alam dengan terencana dan terpimpin.
Peincian tehnik-tehnik experiment di dalam fisika sudah tentu mengalami perubahan seiring dengan perkembangan fisika itu sendiri. Seorang pengexperimen ketika membuat aparatnya dan menilai ketangguhan fungsi aparat itu serta emampuannya untuk mengumpulkan data, akan menggunakan keterampilan pertuukangan yang ia pernah pelajari sebagian dari buku pelajaran, terutama dari percobaan serta kesalahan dan intraksi dengan kolega-kolega yang lebih berpengalaman. Hasil-hasil itu harus dapat bertahan terhadap serentetan prosedur pengujian lebih lanjut. Suatu contoh dalam buku ini telah dibahas tentang metode yang di perkenalkan Galileo untuk memecah suatu zat perantara menjadi dua komponen dan menanganinya secara terpisah, dan contoh lainnya ialah tehnik Fouraer memperlakukan tiap bentuk gelombang sebagai super posisigelombang sinus.perbedaan terpenting yang antara teori gelombang cahaya yang di kemukaan oleh Young dan Fresnel ialah tersedianyamatematika yang layak pada tori Fresnel.
Maka dari itu, karaktristik fisika pada suatu tingkat perkembangannya akan meliputi sepesipikasi usul-usul teoritis yang tersedia bagi para ilmuwan untuk mengerjakannya dan tehnik-tehnik experimen dan matematis untuk menggunakannya.
Dalam penelitian sebelumnya  ada beberapa hal:
v Belief (proposisi); statement dari para ilmuan, ulama selalu memandu tingkah laku.
v Habits of minds; sudah menjadi kebiasaan.
v Doubt; rasa ragu
v Inquiry; penelitian yang masuk dengan teori ilmiah.
Kalau sudah terjadi beberapa hal tersebut akan dapat disimpulkan sehingga membentuk sebuah teori: problem; social, humanistic, agama. Hipotesa; dugaan-dugaan sementara. Kemudian terkhir akan diuji (difalsifikasi) a. corrabated (bertahan/kukuh, maka penelitian itu lulus sebagai penelitian yang baik. b. refuted (ditolak/gagal, berarti sebuah penelitian tersebut gagal sebagai penelitian dan harus mengulang kembali penelitian tersebut.
Program riset difalsifikasikan beberapa tingkat:
a)    Induktivis (keterangan/konfirmasi) harus dicek terlebih dahulu di lapangan, yang masih diperlukan saat penelitian.
b)   Falsifikasi (keyakinan) suatu penelitian harus tahan uji.
c)    Program research (struktur) berupa program research itu sendiri dan paradigma.
Paradigm: cara kita melihat, memandang, memahami, menganalisis sesuatu berdasarkan teori (gugusan cara berpikir)
Cirri-ciri paradigm berdasarkan; ada teori, praktek di lapangan, buku-buku yang dibaca.
Menurut Lakatos; program risetlah yang harus dikembangkan agar tidak terjadi anomaly (penyimpangan terhadap jiwa sendiri)
Ada 6 illmu tahapan; Pra ilmu, Ilmu biasa, Krisis, Revolusi, Ilmu biasa, Krisis baru.
Terjadi krisis karena ada persentuhan antar paradigma,kemudian muncul pra ilmu dan menimbulkan ilmu biasa, pada tahap ini meliputi prinsip ilmu dan ditulis dalam buku menjadi bahan sistematis. Kemudian terjadi krisis ilmu dan revolusi seperti mengatakan bukan bumi sebagai pusat tata surya tapi matahari. Setelah revolusi berlangsung ke ilmu biasa kemudian menimbulkan krisis baru kalau belum benar kembali melewati revolusi. Jadi ilmu itu tidak akan ada akhirnya.
Tanggung jawab ilmu; pada intinya pada tanggung jawab ilmu adalah apa yang kita ketahui harus kita amalkan, dan ilmu saat penelitian harus sesuai dengan limas ilmu kemarin.
Hubungan agama dan ilmu; conflict (bertentangan) masing-masing layer tidak akur. Independence (berdiri sendiri-sendiri; tak berhubungan). Dialog (berdialog; berinteraksi). Integration (satu kesatuan yang utuh).
Persamaan: Agama dan ilmu sama-sama menggunakan observation, theory dan inference. Agama dan ilmu sama-sama melibatkan experience dan interpretation.

Sekian General Filsafat Ilmu ini saya buat, semoga bisa menambah pengetahuan saya dan bermanfaat bagi saya sendiri dan orang yang yang membacanya. terima kasih. wassalamualaikum wr. wb.

     PERKEMBANGAN ILMU
 Animisme 

   Pada hakekatnya kita sebagai makhluk Tuhan mempunyai tugas, dimana tugas itu menuntut kita agar mampu menghadapi segala masalah-masalah yang sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Manusia primitif, ketika mendengar petir dan melihat kilat yang menyambar-nyambar yang diikuti dengan hujan deras atau banjir, mereka bingung apa yang sebenarnya sedang terjadi di alam ini dan sampai kapankah semua ini akan berakhir. Antropologi dan sejarah menjelaskan bahwa manusia primitif (manusia pertama sekali) beranggapan bahwa kejadian-kejadian seperti itu adalah perbuatan dari sang dewa-dewa hantu, setan  dan berbagai makhluk halus lainnya. Mitologi kuno sangat sarat dengan berbagai macam-macam dewa dan dewi, disini mereka mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan mereka sebagai manusia primitif dan keadaan yang bersifat gaib ini belum sepenuhnya musnah di era kita sekarang, bahkan hal itu terjadi pada segelincir golongan-golongan tertentu (beradab). Bukan hal yang aneh jika orang-orang modern sekarang ini percaya akan hantu, iblis naik kuda dan berbagai makhluk halus lainnya untuk menerangkan suatu kejadian yang belum mampu untuk di tafsirkan.

Ilmu Empiris
   proses ini dapat dibagi kedalam dua tahap perkembangan yang saling berkaitan
(1) tingkat empiris
(2) tingkat penjelasan.
Pengalaman, kiranya jelas bahwa tolak ukur dari suatu ilmu yang paling mendasar itu adalah pengalaman, apakah itu gempa, tanah longsor atau gunung meletus. Ilmu dimulai dengan suatu observasi, dimana observasi itu kemudian ditambahkan dengan observasi-observasi lain baik yang serupa maupun tidak, yang pada akhirnya disusun dalam rangka menghasilkan suatu sistem prinsip-prinsip yang tersusun yang akan menerangkan tentang terjadinya atau tidak terjadinya pengalaman. Sedangkan tujuan ilmu itu sendiri adalah memperoleh dan bmensistematiskan pengetahuan tentang gejala yang kita alami.
 Klasifikasi, memasukkan obyek atau gejala kedalam salah satu dari kelas-kelas yang berbeda. Demikian juga, maka apa pun sama saja  dan manusia dapat diklasifikasikan sebagai tinggi, sedang dan pendek, jika kita memang setuju kepada batas-batas dari klasifikasi tersebut.
Kuantifikasi, Sesugguhnya, makin maju suatu ilmu maka semangkin besar pula kebutuhan pencacahan pengalaman dan melangkah ke arah suatu pengukuran yang lebih teliti.
Penemuan Hubungan-Hubungan Banyak dari hubungan yang ditemukan merupakan sesuatu yang tak lebih dari hubungan yang didasarkan pada kenyataan bahwa gejala tersebut muncul secara bersamaan.
Perkiraan Kebenaran Konsep, Tidaklah puas bagi mereka yang memandang ilmu sebagai sesuatu yang absolut dan mereka tidak akan pernah bisa menghargai bahwa apa-apa yang telah dilakukan oleh ilmu hanyalah memberikan kita pengertian yang lebih dalam.

Ilmu Teoritis
Dialah puncak dari ilmu, dimana ilmu ini sebagai langkah untuk meramalkan dan menentukan cara untuk dapat mengontrol aktivitas-aktivitas agar hasil yang didapat sesuai dengan apa yang diharapkan.